TEORI MOTIVASI KEBUTUHAN McCLELLAND (THEORY OF NEEDS)
TEORI
MOTIVASI KEBUTUHAN McCLELLAND
(THEORY OF NEEDS)
Ada sebuah teori yang terkenal dapat dipakai dalam hal memotivasi, teori
tersebut adalah teori motivasi dari McClelland atau sering disebut teori
motivasi dari McClelland (Theory of Needs).
McClelland mengajukan teori motivasi yang
didasari oleh pemenuhan kebutuhan di mana salah satu komponennya adalah
kepribadian individu. McClelland mengemukakan bahwa individu mempunyai cadangan
energi potensial, bagaimana energi ini dilepaskan dan dikembangkan tergantung
pada kekuatan atau dorongan motivasi individu dan situasi serta peluang yang
tersedia. Teori ini memfokuskan pada tiga kebutuhan yaitu kebutuhan akan
prestasi (Achievement), kebutuhan kekuasaan (Power), dan kebutuhan afiliasi (Affiliation).
A.
Kebutuhan Akan Prestasi
( Need for Achievement (N-Ach) )
Kebutuhan akan prestasi adalah dorongan
untuk mengatasi hambatan, mengungguli, dan berprestasi, dan bertindak lebih
untuk mencapai standar yang tinggi. Pada hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan
akan prestasi berada di antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan
prestasi berada di antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan
aktualisasi diri. Ada beberapa karakteristik dari individu yang memiliki
motivasi kebutuhan akan prestasi yang dijabarkan oleh McClelland (1987), yakni
sebagai berikut :
1. Menyukai
tugas yang memiliki taraf kesulitan sedang
Individu yang N-Ach lebih menyukai tugas dengan taraf kesulitan sedang
karena beberapa alasan. Pertama, tugas degan taraf kesulitan yang rendah tidak
dapat membuat dirinya tampil lebih baik dibandingkan dengan individu lain karena
semua individu dapat mengerjakannya. Namun, tugas dengan taraf kesulitan
terlalu tinggi dapat menghambat mencapai dan susah mencapai keberhasilan.
2. Bertanggung
jawab secara personal atas performa kerja
Ini disebabkan oleh kepuasan yang dapat peroleh setelah selesai
melakukan sesuatu yang lebih baik. Mereka mempunyai kecenderungan untuk
menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya hingga selesai dan selalu
terpikirkan tugas yang belum terselesaikan. Individu lebih berfokus pada
prestasi pribadi mereka tanpa memedulikan pengaruhnya bagi anggota kelompok
mereka.
3. Menyukai
umpan balik (feedback)
Individu yang N-Ach menyukai jika performa mereka dibandingkan dengan
orang lain. Mereka juga menyukai umpan balik atas performa atau pekerjaan
mereka untuk menilai hasil kerja mereka.
4. Inovatif
Individu yang N-Ach selalu inovatif, menemukan cara yang baru, lebih
baik, dan efisien dalam menyelesaikan tugas.
5. Ketahanan
(persistence)
Individu
yang N-Ach memiliki ketahanan kerja yang lebih tinggi dalam mengerjakan tugas.
Mampu menghadapi kegagalan. Ini didorong dengan kepercayaan bahwa mereka dapat
menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat dan baik.
Dalam Tinherniyani (tanpa tahun) menyatakan
ada 3 ciri umum orang yang memiliki kebutuhan akan prestasi tinggi menurut
McClelland, yaitu :
1. Memiliki
kecondongan untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat
2. Menyukai
pekerjaan yang hasil pekerjaannya muncul dari upaya-upaya mereka sendiri dan
bukan dari faktor lain seperti keberuntungan.
3. Menginginkan
umpan balik terkait keberhasilan dan kegagalan mereka dibandingkan dengan
individu yang memiliki kebutuhan akan prestasi yang rendah.
Menurut McClelland, Atikson, Clark, dan
Coveil (dalam Schultz dan Schultz, 2008) penelitian McClelland bersama
asosiasinya meminta sekelompok mahasiswa laki-laki untuk menuliskan cerita
singkat dari gambar Thematic Apperception Test TAT. Hasil dari
penelitian ini menunjukkan bahwa cerita yang dibuat oleh mahasiswa yang
memiliki kebutuhan akan prestasi yang tinggi berisikan cerita tentang kondisi
pencapaian-pencapaian yang tinggi berisi banyak rujukan yang bisa digunakan
untuk mencapai standar yang memuaskan, keinginan untuk
mendapatkan, dan bertindak dengan baik. Pemuda yang memiliki
kebutuhan akan prestasi yang tinggi kemungkinan lebih besar untuk hadir di
kampus, mendapatkan nilai yang lebih tinggi, dan tergabung dalam komunitas dan
kegiatan kampus. Selain itu, pemuda yang memiliki kebutuhan akan prestasi yang
tinggi besar memiliki interaksi yang lebih baik dengan orang lain, memiliki
kesehatan fisik yang lebih baik, dan kemungkinan melakukan kecurangan
(menyontek) saat ujian di beberapa situasi (hal terakhir ini perluh diwaspadai).
Individu dengan kebutuhan akan prestasi yang
tinggi tidak selalu tampil lebih baik. Mereka hanya akan tampil dengan lebih
baik ketika ditantang untuk unggul. McClelland, Koestner, dan Weinberg (dalam
Schultz dan Schultz, 2008) mengatakan bahwa berdasarkan penemuan tersebut
McClelland membuat prediksi bahwa Individu dengan kebutuhan akan prestasi yang
tinggi akan mencari kehidupan dan karier yang memungkinkan untuk memuaskan
kebutuhannya. Mereka akan membuat standar pribadi dan bekerja keras untuk
mendapatkan hal tersebut.
Kebutuhan akan prestasi dapat dipengaruhi
oleh faktor budaya, pola pengasuhan orang tua, masa kanak-kanaknya, dan gender.
Elliot, Church, dan Sheldon (dalam Schultz
dan Schultz, 2008) menyatakan bahwa penelitian menganjurkan bahwa untuk
memuaskan kebutuhan akan prestasi dengan berjuang untuk
sukses daripada menghindari kegagalan adalah suatu yang sangat
penting untuk kesejahteraan seseorang.
Parron dan Harackiwieez (dalam Schultz dan
Schultz, 2008) menyatakan bahwa penelitian menganjurkan dua tipe tujuan dalam
motivasi berprestasi, yaitu mastery dan performance atau dua cara dalam
memuaskan kebutuhan akan prestasi. Mastery meliputi mengembangkan kompetensi
melalui perolehan pengetahuan dan kemampuan untuk memuaskan diri sendiri.
Tujuan performance melibatkan memperoleh kompetensi dengan tujuan untuk tampil
lebih baik dibandingkan dengan orang lain.
B.
Kebutuhan akan
Kekuasaan ( Need for Power (N-Pow) )
Kebutuhan
ini didasari oleh keinginan seseorang untuk mengatur atau memimpin orang lain.
Orang-orang N-POW adalah mereka yang senang jika mempunyai kekuasaan atas
segala sesuatu, yang dikejarnya adalah kuasa atas segala sesuatu. McClelland
menyatakan bahwa kebutuhan akan kekuasaan sangat berhubungan dengan kebutuhan
untuk mencapai suatu posisi kepemimpinan.
Mereka N-Pow dapat menjadi orang yang
memiliki dua tipe, personal dan institusional. Mereka yang butuh kekuasaan
personal menginginkan orang lain secara langsung, dan kebutuhan ini sering
diterima sebagai hal yang tidak diingini. Seseorang yang membutuhkan kekuasaan
lembaga mau mengorganisir usaha orang lain untuk tujuan lebih lanjut dari
organisasi. Manajer dengan kebutuhan kekuasaan lembaga yang tinggi cenderung
lebih efektif dibandingkan dengan mereka yang membutuhkan kekuasaan personel
tinggi.
C.
Kebutuhan akan afiliasi
( Need for Affiliation (N-Aff) )
Kebutuhan
akan afiliasi merefleksikan keinginan untuk bersosial, mendapatkan hubungan
sosial yang baik. Seorang dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi menempatkan
kualitas dari hubungan pribadi sebagai hal yang paling penting. Oleh karena
itu, hubungan sosial lebih didahulukan daripada penyelesaian tugas.
Tema utama dari teori Mcclelland yaitu bahwa
kebutuhan dipelajari melalui penyesuaian dengan lingkungan seseorang, maka
perilaku yang sering muncul akan mendapatkan penghargaan. Dengan kata lain,
suatu kebutuhan afiliasi atau kekuasaan yang tinggi dapat ditelusuri melalui
penerimaan penghargaan atas perilaku sosial, dominan dan inspirasional. Sebagai
akibat proses pembelajaran, individu mengembangkan konsep yang unik dari
kebutuhan yang mempengaruhi perilaku dan kinerja.( Ivancevich,
Konopaske&Matteson, 2007).
Kebutuhan ini merupakan salah satu teori
yang mendapatkan perhatian paling sedikit. Individu N-Aff berjuang untuk
persahabatan, lebih menyukai situasi-situasi kooperatif, dan menginginkan
hubungan mengikutsertakan pengertian hubungan timbal balik yang tinggi.
(Robbins&Judge, 2008)
Mereka N-Aff membutuhkan hubungan
kemanusiaan dengan orang lain dan membutuhkan rasa diterima dari orang lain.
Mereka cenderung memperkuat norma-norma dalam kelompok kerja mereka. Orang
dengan n.Aff tinggi cenderung bekerja pada tempat yang memungkinkan interaksi
personal.
McClelland mengatakan bahwa kebanyakan orang
memiliki kombinasi karakteristik tersebut, akibatnya akan mempengaruhi perilaku
karyawan dalam bekerja atau mengelola organisasi.
Komentar
Posting Komentar